Mengatur keuangan – Praktek

Anak itu sama dengan cost, bukan revenue. Itu lah yang penulis ingat ketika menghadiri sebuah seminar. Meski terdengar kejam, tapi ada kebenaran dalam kalimat ini.

Jika pasangan sudah memutuskan untuk mempunyai anak, alangkah baiknya jika mereka sudah mempunyai perencanaan terlebih dahulu, karena di jaman sekarang biaya seorang anak tidak lah sedikit, apalagi dengan naiknya BBM, gak keliatan barang, uang rasanya kok menguap ūüôā

Jika di tulisan sebelumnya penulis telah memberikan beberapa tips seperti downgrade atau spend time with family more untuk penghematan, di tulisan ini penulis akan memberikan contoh2 konkrit.

Alangkah baiknya jika sebuah keluarga mempunyai kebiasaan mencatat pengeluaran mereka. Ini langkah pertama.  Kemudian ambillah sebuah kertas kosong, belah dua secara vertical, sebelah kanan isilah sumber-sumber penghasilan anda, sebelah kiri tulislah macam-macam pengeluaran anda.  Ini merupakan langkah awal untuk membuat analisa di mana pos-pos mana yang bisa di tekan atau di kurangi.

Menambah penghasilan tidaklah mudah, tidak semua orang bisa melakukannya, tetapi menekan pengeluaran, itu hanyalah masalah bisa menahan diri atau tidak. Berakit rakit ke hulu, bersenang senang kemudian. Semakin tua, semakin berkurang tenaga kita, dan semakin banyak pula penyakit yang kita miliki, (setidaknya kondisi tubuh semakin melemah), tetapi penghasilan belum tentu bertambah. Roda berputar, belum tentu penghasilan kita bisa dipertahankan.

Berikut adalah beberapa sector yang menurut penulis bisa di tekan:

  1. Pembantu atau suster. Bagi pasangan yang bekerja, pembantu atau suster di perlukan untuk membantu mereka menjaga bayi. Gaji suster asumsi Rp. 1.500.000, x 12 + 1 bulan gaji untuk THR, itu  setara dengan Rp. 19.500.000 setahun.  Suatu jumlah yang cukup lumayan bagi kebanyakan orang. Biasanya kalau semakin besar anak, sector ini bisa di hilangkan, untuk di jadikan biaya2 lainnya seperti kursus dan lain lain.
  2. Semakin elit suatu perumahan atau apartment, cost nya semakin besar. Life style itu mahal. Biaya biaya retribusi dan lain2 asumsi paling murah Rp. 500.000 X 12 = Rp. 6.000.000. Kecuali benar-benar sanggup, lebih baik jangan mengikuti keinginan hati meski keliatannya sanggup membeli property tersebut, karena incurring cost nya itu yang  harus di perhitungkan, seperti listrik, telepon, dan air. Harga kebutuhan pokok di daerah elit pun cenderung lebih tinggi.
  3. Makanan dan camilan. Apalagi bagi kelas pekerja yang biasa harus makan siang di luar. Sekali makan siang yang cukup memadai, nasi padang misalnya, dan minum, paling gak Rp. 25.000, x 26 hari kerja kira-kira Rp. 650.000. Setahun  kira2 Rp. 7,8 jt. Sebuah sector yang cukup perlu di pertimbangkan.
  4. Travelling. Ini bisa di tekan. Kecuali anaknya sudah umur 6 tahun ke atas, percuma di bawa jalan-jalan. Toh dia juga tidak ingat apa-apa.  Kalau dekat2 dan tidak memberatkan tidak apa apa, tapi kalau yang sekiranya memberatkan, ya mungkin alangkah baiknya di tunda. Biaya ke Singapura 1 orang kira2 5 jt anggap aja untuk 3 hari malam, berangkat 1 keluarga paling tidak Rp. 15 jt.

 

Ya, mungkin masi banyak contoh yang lain, tapi 4 ini saya yang penulis bisa berikan. Ingatlah akan keajaiban dunia ke 8, yaitu bunga berbunga. 19 juta + 6 juta + 7,8 juta + 15 jt, kalau di total, itu hampir 50 jt setahun.  Jika di asumsikan di celeng, dalam 10 tahun, sudah Rp. 500.000.000, cukup untuk de pe kendaraan atau property kecil2an untuk di kontrakkan.

 

Semoga artikel yang panjang ini bermanfaat dan menyadarkan kita.

 

 

 

WeCreativez WhatsApp Support
Kami sedang ONLINE dan siap berinteraksi dengan Anda sekarang