REGENERASI PERUSAHAAN KELUARGA

Banyak diantara kita cukup beruntung memiliki orang tua yang cukup mapan untuk member kita sebuah perusahaan, meski perusahaan itu sifatnya semi professional, atau perusahaan keluarga, yang merupakan cirri khas banyak perusahaan di Indonesia pada umumnya.

Banyak  dari perusahan itu cukup besar, sehingga hasilnya bisa untuk menyekolahkan anak2 mereka di luar negeri. Ini mungkin lagu yang sering anda dengar. Pulang2, anaknya tidak mau meneruskan, tidak  cocok dengan orang tuanya sendiri, atau bahkan apa yang di pelajarinya di luar negeri ketika mau di terapkan  di perusahaannya tidak bisa. Beribu macam alasan yang membuat orang tua mengelus dada karena perusahaan besar mereka tidak ada penerusnya

Masalah2 yang saya ketahui mengenai regenerasi perusahaan keluarga antara lain:

  1. Anak tidak mau meneruskan
    Banyak hal yang menyebabkan anak tidak mau meneruskan. Entah karena di luar negeri dia bisa berdikari dan mendapat hasil yang lebih baik. Sebagai orang tua bersyukurlah punya anak semacam ini. Tapi tentu orang tua yang membangun bisnisnya dimana mereka bangga dengan bisnis mereka mengelus dada, karena tidak ada pewarisnya.
    Kadang anak tidak mau meneruskan karena kerja orang tuanya itu working hard, bahkan kalau di bilang very2 hard. Saya mengenal  seseorang yang kerja dari jam 8 pagi sampai jam 10 malam. Ya di jaman sekarang ini dimana orientasi working hard sudah berubah menjadi working with passion, ya mana mau anak nerusin kalau kerjanya kayak gitu. Tapi sangat kaya orang itu.
  2. Tidak cocok dengan orang tua
    Kadang orang tua kurang member keleluasaan anak2nya untuk mencoba2 dan belajar dari kesalahannya. Keselahan dan pengalaman adalah guru terbaik. Tapi kadang2 orang tua tidak mau hal itu terjadi dan terlalu mengkekang. Akibatnya anak merasa tidak berkembang, dan lama2 malas untuk bekerja, meski untuk orang tuanya sekalipun.
  3. Ilmu yang di pelajari tidak bisa di terapkan
    Ya, tidak semua yang di luar negeri bisa di terapkan di  Indonesia memang, dan tidak semua yang di luar negeri ketika di terapkan ke perusahan keluarganya. Ya, ketika saya pulang pun saya juga kerjanya ya marah2. Punya sepuluh jawaban untuk satu pertanyaan. He he he. Pendapat saya pribadi, meski kita lulusan luar negeri sekalipun, ketika kita di Indonesia, ya kita harus belajar dulu, banyak diam dan mendengarkan, kemudian kalau sudah familier, kita cari prinsip2 yang sekiranya bisa di terapkan. Bisa kok prinsip2 manajemen perusahaan besar di terapkan pada perusahaan keluarga.

 Belum menjadi budaya di Indonesia perusahaan di jual. Ya di jual. “Di wariskan” kepada orang yang memiliki passion,visi dan misi yang sama. Bagi saya pribadi, mendirikan perusahaan itu memang untuk di wariskan, tapi kalau gak ada pewarisnya ya tidak apa apa, di jual saja, yang penting perusahan yang kita banggakan dan kita bangun itu exist.

Sebenarnya masih banyak masalah yang di hadapi perusahaan keluarga. Misal saja perusahaan itu tidak mengikuti perkembangan jaman juga bisa dimana modal ada tapi jalan baru tidak ada. Keluarga besar sehingga banyak tangan ikut campur dalam perusahaan itu juga bisa sepeninggal foundernya. Atau tidak di kelola secara professional. Tetapi itu diluar cakupan artikel ini.

Semoga artikel ini bermanfaat.

WeCreativez WhatsApp Support
Kami sedang ONLINE dan siap berinteraksi dengan Anda sekarang